CAGAR BUDAYA DI JOGJA


16/05/2020 Administrator


Di Jogja terdapat berbagai kawasan yang memiliki nilai sejarah ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pendidikan, sehingga perlu ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya yaitu satuan ruang geografis yang memiliki dua situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas, hal tersebut tidak diragukan mengingat di wilayah Jogja pernah menjadi pusat berbagai kerajaan bahkan sejak masa Kerajaan Mataram Hindu-Buddha, kemudian dilanjutkan dengan mulainya masa Kerajaan Mataram Islam, di Kotagede, Kerta dan Pleret, hingga Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman.
 
Gubernur DIY telah menetapkan enam kawasan cagar budaya d tingkat provinsi, yaitu (1) Imogiri, (2) Keraton Yogyakarta, (3) Kotabaru, (4) Kotagede, (5) Malioboro dan (6) Pura Pakualaman, sedangkan secara nasional Prambanan ditetapkan sebagai Kawasan cagar budaya ditingkat nasional.
 
Untuk dapat lebih banyak dalam penanganan dan pemeliharaan cagar budaya, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikdan dan Kebudayaan membentuk Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan Balai Arkeologi disamping Dinas Kebudayaan di Pemerintah DIY dan masing-masing Pemerintah Kabupaten dan Kota di wilayah DIY.
 
Saat ini jumlah cagar budaya yang ada di Jogja berjumlah ratusan yang tersebar di lima wilayah kabupaten dan Kota, yang terdiri dari bangunan cagar budaya (BCB) yang ditetapkan oleh Gubernur dan bangunan warisan budaya (BWB) yang ditetapkan oleh Bupati atau Walikota, dimana untuk memberikan kepastian, di depan bangunan tersebut dipasang penanda sebagai BCB atau BWB.
 
Beberapa bangunan yang termasuk BCB dan BWB dapat berupa bangunan baik berupa bangunan kantor, tempat tinggal/rumah tradisional dan masa kolonial, arca, candi, monumen, jembatan, masjid, gereja dan sebagainya berdasarkan dari hasil kajian yang memiliki nilai penting, nilai sejarah, usia bangunan lebih dari 50 tahun, arsitektur yang unik dan 70 persen bangunan masih asli, tetapi apabila dari hasil kajian ternyata bangunan tersebut tidak memenuhi kriteria BCB atau BWB, maka bangunan tersebut tidak diberi status apa pun, namun hanya disebut sebagai bangunan kuno saja. Dengan ditetapkannya suatu bangunan sebagai BCB atau BWB, maka tidak diperkenankan untuk dilakukan perubahan maupun pembongkaran.
 
BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI JOGJA
Hingga saat ini tercatat sebanyak 625 BCB berada di wilayah Jogja, yang terbagi dalam empat periode, yaitu (1) prasejarah; (2) klasik; (3) islam dan (4) kolonial, dimana di wilayah Bantul (103 bangunan); Gunungkidul (53 bangunan); Kulon Progo (39 bangunan); Sleman (165 bangunan) dan Yogyakarta (265 bangunan) yang bisa terus bertambah dengan ditemukan dan ditetapkannya beberapa bangunan sebagai BCB.
 
BCB di Jogja, antara lain Bangunan Gardu Listrik/Babon Aniem di Kotabaru, Kotagede dan Malioboro; Sirine Gaok di Pasar Beringharjo dan Plengkung Gading; Ngejaman di Keben dan di Malioboro, Yogyakarta; Goa Jepang di Bantul dan Sleman; Dam Kamijoro; Tugu Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX; Pabrik Pengeringan Tembakau di Bekas Pabrik Gula Tanjungtirto; Tugu golong-gilig; Panggung Krapyak; Pasar Beringharjo; Masjid Gedhe Kauman; Pesanggarahan Ambar Ketawang; Pesanggrahan Tamansari; Masjid Pathok Negara di empat lokasi
 
BCB berupa ndalem ningrat atau rumah bangsawan pada masa lalu, seperti: (1) Dalem Benawan; (2) Dalem Brantakusuman (Pugeran); (3) Dalem Jayadipuran; (4) Dalem Kaneman; (5) Dalem Mangkubumen; (6) Dalem Natatarunan; (7) Dalem Ngadiwinatan; (8) Dalem Notoprajan; (9) Dalem Padmokusuman; (10) Dalem Pakuningratan; (11) Dalem Pengulon; (12) Dalem Pujokusuman; (13) Dalem Purbonegaran; (14) Dalem Puspodiningratan; (15) Dalem Suryoputran; (16) Dalem Tejokusuman; (17) Dalem Yudanegaran; (18) Ndalem Gede Notoyudan; (19) Ndalem Wironegaran; (20) Pesanggrahan Ambarrukmo; (21) Pesanggrahan Ngeksiganda; (22) Pesanggrahan Ngeksigondo
 
 
/HJ