CANDI RATU BOKO


11/02/2020 Administrator


Dikenal dengan nama Candi Ratu Boko, sebenarnya merupakan reruntuhan suatu tempat pertapaan atau kerajaan, karena di kawasan itu juga ditemukan dinding benteng dan parit yang mengelilingi candi sebagai suatu struktur pertahanan dan reruntuhan pemukiman warga, sehingga juga disebut sebagai Keraton Ratu Boko, dibangun oleh Wangsa Syailendra yang beragama Budha pada abad 8, namun kemudian diambil alih oleh kerajaan Mataram Hindu sehingga bangunan Keraton Boko dipengaruhi oleh budaya Budha dan Hindu.
 
Dalam Prasasti Abhayagiri Wihara tertulis tahun 792 M, menyebutkan bahwa Raja Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran dari Kerajaan Medang atau Mataram Kuno yang menganut agama Budha membangun Abhayagiri Wihara (abhaya berarti tanpa bahaya; hagaya berarti damai dan giri berarti gunung atau bukit yang diartikan sebagai biara yang dibangun di sebuah bukit yang penuh kedamaian dan pada pemerintahan Rakai Walaing Pu Kombayoni, Abhayagiri Wihara berganti nama menjadi Keraton Walain, demikian juga yang tertulis pada Prasasti Kalasan (779 M), Prasasti Mantyasih (907 M), dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M).
 
Candi Ratu Boko dibangun di atas bukit dengan ketinggian 196 mdpl (meter dari permukaan laut) pada area seluas kurang lebih 25 hektar, yang berada di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman dan berada sekitar 3 km di selatan dari komplek Candi Prambanan.
 
Candi Ratu Boko pertama kali dilaporkan pada tahun 1790 oleh Van Boeckholzt pada pemerintah Hindia Belanda, namun baru diteliti seratus tahun kemudian oleh ilmuan Belanda Frederik David Kan Bosch yang ditulis dalam Keraton van Ratoe Boko.
 
Komplek candi Ratu Boko terdiri dari beberapa bagian yang sebagian hanya berupa reruntuhan, yaitu:
 
Gerbang
Sebagai pintu masuk ke kawasan Candi Ratu Boko yang berada di  bagian Barat, yang terdiri dari dua gerbang yaitu gerbang luar dan gerbang dalam yang ukurannya lebih besar sebagai gerbang utama.
Gerbang utama ini terdiri dari lima gapura paduraksa yang bebaris sejajar dengan gerbang luar, dengan tangga yang dihiasi ukel (gelung) di pangkal dan kepala raksasa di puncak sisi tangga, sedangkan di dinding luar sisi tangga juga dihiasi dengan pahatan bermotif bunga dan sulur-suluran serta diapit dengan dua gapura yang lebih kecil sebagai pengapit di setiap sisi.
 
Candi Batukapur
Dari gerbang utama, terdapat bangunan dari batu kapur, yang diperkirakan suatu fondasi dari bangunan yang tidak terbuat dari batu, sehingga sudah runtuh.
 
Candi Pembakaran dan Sumur Suci
Berbentuk teras tanah berundak setinggi 3 meter, yang digunakan sebagai tempat pembakaran untuk suatu ritual dan terdapat sumur tua yang konon merupakan sumber air suci.
 
Paseban
Dua paseban yang saling berhadapan di sisi barat dan timur, merupakan tempat menunggu untuk menghadap raja.
 
Pendhapa
Bangunan pendhapa ini hanya tersisa berupa dinding dari batu andesit, dinding batu setinggi setinggi 3 m yang memagari sebuah lahan dengan jalan masuk berupa gapura paduraksa (gapura beratap) di sisi utara, barat dan selatan pagar tersebut, diperkirakan dulu merupakan bangunan pusat sebagai pendhapa atau ruang tamu yang umumnya terletak di bagian depan rumah.
Di luar pendhapa, terdapat sebuah teras batu dengan tiga buah candi kecil yang digunakan sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu, Syiwa dan Brahma.
 
Keputren
Keputren adalah lingkungan tempat tinggal para puteri, dengan dua bagian kolam berbentuk persegi dan kolam berbentuk bundar.
 
Goa
Terdapat dua goa yang diperkirakan sebagai tempat untuk bertapa, yaitu goa lanang atau goa laki-laki dan goa wadon atau goa perempuan, dimana dinamakan goa lanang karena di dalam goa tersebut ditemukan relief simbol lingga, sedangkan di goa wadon ditemukan relief simbol yoni.
 
 
[FASILITAS DAN HARGA TIKET]
 
/VA /HJ