KOTAGEDE


30/01/2020 MASTER ADMINISTRATOR


Di wilayah sekitar Jogja (saat ini) pada masa Abad 8 menjadi pusat Kerajaan Mataram Hindu, yang terlihat dengan adanya berbagai peninggalan berupa candi dan situs. Namun sejak Abad-10, kerajaan tersebut meindahkan pusat pemerintahannya ke wilayah timur Jawa, yang melahirkan kerajaan Kahuripan, Jenggala, Kadiri, Singasari hingga Majapahit.
 
Delapan abad kemudian, pada tahun 1587 di sekitar bekas Kerajaan Mataram Hindu tersebut, menjadi salah satu tonggak sejarah Jawa dan nusantara, yang bermula dari Ki Ageng Pemanahan yang mendapatkan lahan di Alas Mentaok dari Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang, karena telah berjasa mengalahkan musuh Kerajaan Pajang.
Di tempat yang masih berupa hutan itu, mulailah kelahiran wilayah baru di bumi mataram, dimana Ki Ageng Pemanahan dengan keluarga dan pengikutnya membangun permukiman dan menjadikannya suatu desa yang maju. Setelah Ki Ageng Pemanahan meninggal, puteranya Danang Sutawijaya dan bergelar Senapati Ingalaga melanjutkan pembangunan permukiman tersebut hingga berkembang menjadi kota besar dan sejak itu lebih dikenal dengan nama Kuthagedhe atau Kotagede, yang membangun keraton dengan benteng mengelilinginya.
 
Dalam masa itu, terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan Pajang antara Pangeran Benawa dengan Arya Pangiri, yang diakhiri dengan kemenangan Pangeran Benawa atas keterlibatan dan bantuan Senapati Ingalaga hingga tahta Kerajaan diserahkan kepada Senapati Ingalaga yang ditolaknya. Setelah Pangeran Benawa wafat, Pajang diserahkan kepada Senapati Ingalaga, yang kemudian bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama serta mendirikan Mataram Islam dan memindah ibukotanya ke Kotagede.
 
Pada masa kepemimpinan Panembahan Senapati, wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam meluas ke wilayah Pati, Madiun, Kediri dan Pasuruan, hingga dilanjutkan penerusnya yang menguasai hampir seluruh Pulau Jawa, kecuali Banten dan Batavia, hingga mencapai puncaknya pada masa kepemimpinan Sultan Agung, penerus dan cucu Panembahan Senapati.
Sebelum Sultan Agung memimpin, Mataram Islam dibawah kepemimpinan Mas Jolang, putera Panembahan Senapati yang bergelar Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati Senapati ing Ngalaga Mataram (1601-1613) dan Raden Mas Wuryah, putera Mas Jolang (1613).
 
Saat Raden Mas Rangsang, putera dari Mas Jolang memimpin Mataram Islam (1613-1645), menggunakan gelar Panembahan Hanyakrakusuma atau Prabu Pandita Hanyakrakusuma dan kemudian bergelar Sultan Agung Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman, mulai menerapkan konsep arsitektur kota Kotagede yang menyusun area dengan pola catur gatra tunggal, dimana terdapat empat area dalam satu wilayah, yaitu (1) Keraton sebagai pusat, (2) Masjid di sisi barat, (3) Alun-alun sebagai ruang publik di utara keraton dan (4) pasar di timur laut, yang dikelilingi oleh benteng (cepuri) dan keseluruhan komplek dikelilingi benteng luar (baluwerti). Selain itu Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan dari Kotagede ke Karta (dekat Plered) dan berakhirlah era Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam hingga Sultan Agung wafat, pada tahun 1647 ibukota Mataram dipindah ke Plered oleh penerusnya Amangkurat I.
Setelah tidak menjadi ibukota, Kotagede tetap ramai dengan rakyatnya yang melanjutkan kehidupannya disana, dengan beberapa bangunan peninggalan sejarah Mataram Islam seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, pasar, bekas kedhaton, reruntuhan benteng, rumah tradisional hingga penamaan perkampungan di Kotagede.
 
Setelah runtuhnya Mataram Islam pada tahun 1677 karena perselisihan keturunan Sultan Agung hingga terjadi pemberontakan Trunajaya, selanjutnya muncul kerajaan baru di daerah timur, Kasunanan Kartasura hingga menjadi Kasunanan Surakarta dan terjadi palihan nagari berdasarkan Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Kotagede hanya menjadi pusat permukiman dan perdagangan saja. Bekas keraton Mataram Islam karena tidak terjaga dan terawat menjadi hilang, hanya meninggalkan beberapa bekas dan reruntuhan saja, karena telah menjadi pusat permukiman.
 
Saat ini Kotagede menjadi salah satu tempat tujuan wisata karena masih kental dengan nilai-nilai budaya dan sejarah sebagai bekas ibukota Kerajaan Mataram Islam dan wilayahnya terbagi menjadi dua wilayah yaitu Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, dimana di area inti Jagalan, Prenggan dan Purbayan serta wilayah penyangga Rejowinangun disebelah utara dan Singosaren di sebelah Selatan, masuk wilayah Kota Yogyakarta dan bagian selatan, di Banguntapan yang masuk wilayah Bantul. Dikenal dengan sebutan “Kota Perak” karena banyak pengrajin perak hingga saat ini, yang menjadi salah satu kegiatan perekonomian yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam.
 
Beberapa lokasi petilasan dan tempat yang masih ada dan menjadi cara budaya serta masih bisa disaksikan antara lain:
 
 
/HJ