MASJID GEDHE KAUMAN


14/02/2020 Administrator


Masjid Agung Kauman atau Masjid Gedhe Kauman adalah masjid Kasultanan Yogyakarta yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat, seorang penghulu Keraton dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsitekturnya pada tahun 1773, juga dikenal dengan nama Masjid Kagungan Dalem Karaton Ngayogyakarta atau Masjid Gedhe terletak di sebelah barat alun-alun utara, sebagai tempat beribadah bagi Sultan serta para abdi dalem dan rakyatnya.
 
Arsitektur bangunan utama Masjid Gedhe berbentuk tajug, yaitu persegi tertutup dengan atap bertumpang tiga yang menggambarkan Syari’at (ajaran agama), Hakekat (kebenaran), dan Ma’rifat (pengetahuan atau pengalaman). Masjid ini dikelilingi oleh dinding tinggi sebagai beteng dan terdapat pintu masuk utama di sisi timur dengan konstruksi semar tinandu. Di luar bangunan terdapat blumbang atau kolam untuk berwudhu yang sekarang tidak digunakan lagi dan diganti dengan tempat berwudhu yang menggunakan keran.
 
Sampai saat ini, Masjid Gedhe sudah mengalami beberapa kali perbaikan dan renovasi, antara lain saat gempa mengguncang Yogyakarta pada tahun 1867 serta untuk memperkuat atap masjid dan lantai masjid diganti dengan marmer.
 
Masjid Gedhe memiliki beberapa bagian atau ruangan, antara lain:
Ruang Utama, sebagai tempat untuk sholat, yang dilengkapi dengan mihrab atau pangimaman, yaitu tempat imam memimpin sholat dan di dekat mihrab terdapat mimbar dari kayu jati yang dipakai oleh khotib untuk berceramah.
Maksura, berada di sebelah kiri belakang mihrab, yaitu tempat Sultan saat beribadah di Masjid Gedhe, dilengkapi dengan tombak sebagai perlengkapan keamanan.
Pawestren, ruangan khusus untuk jamaah wanita, berada di sebelah selatan bangunan inti masjid.
Yakihun, ruangan di samping utara yang digunakan bagi ulama, khotib dan marbot untuk istirahat dan bermusyawarah membicarakan persoalan agama.
Serambi, berada di sebelah timur, bagi jamaah yang tidak mendapatkan tempat di dalam ruang utama.
Pagongan, sebagai tempat untuk meletakkan gamelan sebagai media berdakwah melalui pendekatan seni dan budaya yang dimainkan pada saat pelaksanaan Sekaten untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pajagan, bangunan di sekitar masjid yang dulu menjadi tempat para prajurit Keraton saat berjaga pada hari-hari besar Islam tetapi sekarang digunakan sebagai perpustakaan masjid dan ruang pertemuan.
Pengalon, terletak di sisi utara Masjid, merupakan perumahan bagi penghulu Keraton dan keluarganya.
Pakauman, merupakan komplek perumahan untuk para ulama ketib atau khotib, modin atau muadzin, merbot, abdi dalem pametakan, abdi dalem kaji selusinan, dan abdi dalem banjar mangah, yang dikenal sebagai kampung Kauman.
 
 
/VA