MASJID PATHOK NEGARA


03/04/2020 Administrator


Untuk menunjukkan daerah kekuasaan dan wilayah Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I membangun pertanda/simbol berupa Masjid di wilayah negaragung Kasultanan Ngayogyakarta.
 
Keraton Yogyakarta membagi wilayahnya menjadi tiga yaitu (1) nagara atau kuthanagara yang merupakan wilayah pusat pemerintahan Keraton Yogyakarta; (2) negara agung atau negaragung yang merupakan wilayah diluar kuthanegara sebagai pelingkup atau penyangga pusat pemerintahan Keraton Yogyakarta; dan (3) mancanegara yang merupakan wilayah di luar negaragung.
 
Selain Masjid Gedhe di kuthanegara, Keraton Yogyakarta juga membangun masjid di empat penjuru mata angin di wilayah pinggiran/perbatasan antara kuthanegara dengan wilayah negaragung Kesultanan Ngayogyakarta yang disebut sebagai Masjid Pathok Negara, dimana pathok dalam bahasa Jawa berarti sesuatu yang ditancapkan sebagai batas atau penanda, dapat juga berarti aturan, pedoman atau dasar hukum dan negara berarti atau pemerintahan kerajaan, yang dimaksudkan sebagai batas wilayah negara atau pedoman bagi pemerintahan negara serta berfungsi sebagai pusat pendidikan, tempat upacara/kegiatan keagamaan, bagian dari sistem pertahanan, sekaligus bagian dari sistem peradilan keagamaan yang disebut juga sebagai Pengadilan Surambi, yang dapat memutus hukum perkara pernikahan, perceraian atau pembagian waris, sementara untuk hukum yang lebih besar dan berat, misalnya perdata atau pidana, diputus di pengadilan keraton.
 
Keempat Masjid Pathok Negara dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, yaitu Masjid Jami’ An-nur di Mlangi (bagian Barat), Masjid Jami’ Sulthoni di Plosokuning (bagian Utara), Masjid Jami’ Ad-Darojat di Babadan (bagian Timur) dan Masjid Nurul Huda di Dongkelan (bagian Selatan).
 
MASJID AN-NUR di Mlangi (bagian Barat)
Masjid Jami’ An-Nur di Mlangi didirikan pada tahun 1758 yang dikelola oleh bendoro Pangeran Haryo (BPH) Sandiyo atau lebih dikenal sebagai Kyai Nur Iman, saudara Sri Sultan Hamengku Buwono I, putera Susuhunan Amangkurat IV, yang di sekitarnya terdapat beberapa pondok pesantren yang dipimpin oleh keturunan Kyai Nur Iman.
 
MASJID SULTHONI di Plosokuning (bagian Utara)
Masjid ini didirikan oleh Kyai Mursodo, putera Kyai Nur Iman Mlangi, yang sudah ada sebelum berdirinya Keraton Yogyakarta dan setelah Sultan Hamengku Buwono I membangun keraton dan Masjid Gedhe, Masjid Plosokuning dipindah ke lokasi saat ini.
Salah satu cirinya dengan adanya keberadaan kolam yang mengelilingi masjid, untuk membasuh kaki dan membersihkan diri sebelum memasuki masjid, karena pada saat itu masyarakat tidak mengenakan alas kaki dalam kehidupan sehari-harinya. Di antara Masjid Pathok Negara, Masjid Jami’ Sulthoni Plosokuning termasuk yang terjaga keasliannya.
 
MASJID AD-DAROJAT di Babadan (bagian Timur)
Masjid Jami' Ad-Darojat yang dibangun pada tahun 1774 berada di Babadan, Bantul ini di sampingnya terdapat pawestren, ruang yang diperuntukkan khusus bagi jamaah wanita, dengan serambi masjid berbentuk limasan dan juga dilengkapi dengan kolam sebagai tempat bersuci.
 
MASJID NURUL HUDA di Dongkelan (bagian Selatan)
Masjid Nurul Huda berada di wilayah Kauman, Dongkelan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, didirikan pada tahun 1775 dengan Kyai Syihabudin sebagai penghulunya, merupakan salah satu saksi bisu peran Masjid Pathok Negara sebagai sistem pertahanan, dimana pada masa Perang Jawa, masjid ini ludes dibakar oleh Belanda karena dianggap sebagai tempat berkumpulnya para pejuang pengikut Pangeran Diponegoro.
 
Saat ini Masjid dikelola sepenuhnya oleh masyarakat, namun Keraton Yogyakarta masih menempatkan Abdi Dalem sebagai penanda bahwa masjid tersebut merupakan Kagungan Dalem.
 
Masjid Pathok Negara juga merupakan nama jabatan Abdi Dalem di bawah Kawedanan Reh Pangulon, dimana Abdi Dalem Pathok Negara menguasai bidang hukum dan syariat agama Islam, yang bertugas mengelola masjid di wilayah tersebut dan memberikan pengajaran/pendidikan keagamaan kepada masyarakat yang berada di sekitar bangunan masjid, dimana untuk itu diberi wilayah perdikan.
 
 
/HJ