MATARAM KUNO DI JOGJA


05/06/2020 Administrator


Kedatuan Medang merupakan salah satu kerajaan tertua di Jawa yang didirikan oleh Sanjaya pada awal abad ke delapan dengan daerah kekuasaan meliputi daerah Jawa Tengah bagian selatan, seluruh daerah Jogja dan Jawa Timur bagian barat. Pusat kerajaan berada di dataran Kewu atau dataran Prambanan, yang meliputi sebagian Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk kemudian disebut sebagai Bhumi Mataram, dalam Bahasa Sanskerta Bhumi berarti tanah dan Mataram berarti ibu. Oleh para sejarawan, Kedatuan Medang disebut sebagai Kerajaan Mataram Kuno untuk membedakan dengan Kasultanan Mataram Islam yang muncul pada abad 17.
 
Selama berkuasa, Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh Wangsa Sanjaya (pemeluk ajaran Hindu Siwa) dan Wangsa Syailendra (penganut ajaran Budha Mahayana). Menurut pakar sastra Jawa, Poerbatjaraka, pada dasarnya Sanjaya dan seluruh keturunannya merupakan anggota keluarga Syailendra yang awalnya memeluk agama Hindu Siwa. Namun putranya, Rakai Panangkaran, masuk agama Budha Mahayana sehingga keturunan Syailendra memerintah Kedatuan Medang sebagai pemeluk dan pelindung agama Budha di Jawa hingga masa pemerintahan Samaratungga. Kemudian pada masa pemerintahan Rakai Pikatan kembali menganut ajaran Hindu Siwa yang menjadi masa kebangkitan Wangsa Sanjaya.
 
Raja-raja yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno yaitu Sri Sanjaya (732-760 M); Rakai Panangkaran (760-780 M); Rakai Panunggalan (780-800 M); Samaragrawira atau Rakai Warak (800-819 M); Samaratungga atau Rakai Garung (819-838 M); Rakai Pikatan (838-856 M); Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala (856-880 M); Dyah Tagwas atau Sri Jayakirtivardhana (880-885 M); Dyah Dewendra (885-887 M); Dyah Bhadra atau Dyah Ranu (887-890 M); Dyah Jebang atau Rakai Watuhumalang (890-898 M); Dyah Balitung atau Rakai Watukura (898-910 M); Dyah Daksottama atau Mpu Daksa (910-919 M); Dyah Tlodhong (919-924 M); Dyah Wawa (924-929 M); Mpu Sindok (929-947 M); Sri Isana Tunggawijaya (947-985 M); Sri Makutawamsa Wardhana (985-990 M); dan Dharmawangsa Teguh (990-1016 M).
 
Kerajaan Mataram Kuno sempat mengalami beberapa kali pemindahan pusat kerajaan, dimana pada awalnya berada di Mataram atau dataran Prambanan; kemudian pada masa kepemimpinan Rakai Pikatan pindah ke Mamrati (dataran Kedu); di masa kepemimpinan Dyah Balitung pindah ke Poh Pitu (Magelang); kemudian kembali lagi ke Mataram di masa kepemimpinan Dyah Wawa; dan akhirnya pada masa kepemimpinan Mpu Sindok pusat kedatuan dipindah ke Jawa Timur.
 
Pada abad ke delapan hingga pertengahan abad ke sembilan merupakan periode pertumbuhan pesat dari segi demografis, kebudayaan, dan teknologi arsitektur sehingga banyak dilakukan pembangunan candi yang bercorak Hindu-Budha di poros Kedu-Prambanan. Di Jogja, candi-candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dapat dijumpai di Kalasan, Kabupaten Sleman,  yaitu Candi Banyunibo, Candi Barong, Candi Gebang, Candi Ijo, Candi Kalasan, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, Candi Sambisari, dan Candi Sari. Pada tahun 2018 ditemukan benda-benda purbakala di dekat Candi Sambisari, tepatnya Dusun Bayen, Kalasan, antara lain keramik dan tembikar peninggalan Dinasti Tang dan Sung abad 10 yang menguatkan lokasi pusat kerajaan di kawasan Kalasan, di mana di lokasi tersebut diindikasikan sebagai tempat berkumpulnya saudagar kaya dari Pulau Jawa dan Tiongkok.
 
Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno terjadi pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh, yang bermula dari serangan Dharmawangsa pada Kerajaan Sriwijaya di Palembang dan kemudian dibalas dengan melibatkan Kekaisaran Tiongkok hingga berperang selama 16 tahun.
 
Perang diakhiri dengan peristiwa Mahapralaya, yaitu serangan tiba-tiba dari Haji Wurawari, seorang pemimpin lokal di bawah kekuasaan Medang, yang dihasut oleh Kerajaan Sriwijaya untuk memberontak dan membunuh Raja Dharmawangsa beserta keluarganya pada saat upacara pernikahan putri Dharmawangsa.
 
 
/ND