BABON ANIEM - SEJARAH PERLISTRIKAN DI JOGJA


31/03/2020 Administrator


Pada masa lalu, untuk mendapatkan pelayanan listrik di Jogja hanya dapat dilakukan melalui suatu gardu listrik yang terbatas area dan kapasitasnya, dimana NV. ANIEM (Algemeen Nederlands Indische Electriciteit Maatschappij) menjadi perusahaan penyedia listrik Hindia Belanda di wilayah Jawa yang merupakan anak perusahaan dari Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM), perusahaan penyedia gas Hindia Belanda, yang berdiri sejak 1864 dan merupakan pemasok utama untuk menghidupkan lampu-lampu kota sebelum adanya listrik.
 
Kebutuhan listrik ini mulai dirasakan dengan adanya perkembangan di dunia usaha dan industri gula yang tumbuh di tanah jajahan dan adanya kepentingan masyarakat sehingga pihak Sultan Hamengku Buwono VII pada masa itu dengan Residen Yogyakarta (Barend Leonardus van Bijlevelt) mulai mengusahakan adanya jaringan instalasi kelistrikan.
 
Sekitar tahun 1909, NV. ANIEM membentuk anak perusahaannya, NV. Solosche Electriciteits Maatschappij (SEM) untuk mengelola pengadaan listrik di wilayah Solo, Klaten, Sragen, Yogyakarta, Kudus dan Semarang dengan membangun gardu induk di wilayah Jogja, yang menjadi bagian dari penanda momentum hadirnya kelistrikan di Jogja.
 
Di kota Yogyakarta, NV. ANIEM/NV. SEM membangun gardu listrik yang berfungsi sebagai pengatur dan pembagi daya listrik ke beberapa wilayah di dalam kota seperti Malioboro, Keraton Yogyakarta, Bintaran, Pakualaman.
 
Gardu listrik NV. ANIEM yang didirikan di beberapa wilayah di Jogja berbentuk bangunan persegi panjang dengan dinding batu bata ini sangat unik karena dilengkapi dengan tulisan peringatan untuk tidak mendekat, dalam tiga bahasa, yakni LEVENSGEVAAR (Bahasa Belanda: sangat berbahaya), AWAS ELESTRIK (Bahasa Melayu), SING NDEMEK MATI (Bahasa Jawa: yang menyentuh mati) serta simbol petir bagi yang buta huruf dan oleh masyarakat Jogja pada masa lalu, Gardu Listrik NV ANIEM itu disebut sebagai Babon ANIM.
 
Pada zaman Jepang, banyak aset negara diambil alih oleh pemerintahan pendudukan, termasuk perusahaan listrik di Hindia Belanda sehingga semua listrik di Jawa pun menjadi urusan Djawa Denki Djigjo Kosja. Setelah Indonesia merdeka, ANIEM menjadi salah satu perusahaan yang mengalami nasionalisasi, dimana pada tahun 1954, ANIEM resmi dikelola negara dibawah naungan Djawatan Listrik dan Gas yang menjadi satu-satunya pengelola listrik di Indonesia. Lembaga ini kemudian dibubarkan pada tahun 1965 dan dipecah menjadi Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
 
Saat ini bangunan Gardu listrik ANIEM di Jogja sudah tidak berfungsi dan hanya sedikit yang tersisa, yakni di area Malioboro (di Jalan Abu Bakar Ali, simpang Jalan Mataram), Kotabaru (di Jalan Faridan M. Noto) dan Kotagede (di Jalan Mondorakan, ini hasil rekostruksi pascagempa bumi tahun 2006).
 
 
/AI