BINTARAN


30/04/2020 Administrator


Bintaran merupakan salah satu kawasan di Yogyakarta yang berada di sebelah timur Keraton Yogyakarta dan berada tepat di selatan komplek Pura Pakualaman. Dinamakan Bintaran karena pada awalnya daerah itu merupakan tempat tinggal Pangeran Haryo Bintara, salah satu kerabat Keraton Yogyakarta, yang disebut nDalem Mandara Giri.
 
nDalem Mandara Giri secara arsitektural merupakan perpaduan Jawa dan Belanda, dimana ciri Jawa terlihat dari adanya pendopo dan ciri bangunan Belanda terlihat dari ruangan yang lebar dan berdinding tinggi serta jendela khas Belanda yang besar dan memiliki dua daun.
 
Kawasan Bintaran telah ada hampir berbarengan dengan kawasan Kotabaru, dimana dengan berkembangnya industri gula di Jogja, menjadi awal kedatangan para pelaku bisnis dari Belanda dan Eropa. Namun karena permukiman orang Eropa yang berada di kawasan Loji Kecil atau Benteng Vredeburg sudah tidak cukup, sehingga mereka memperluas dengan membangun kawasan permukiman baru untuk orang Eropa di kawasan Utara (Kotabaru) dan kawasan Timur (Bintaran), sekitar tahun 1930.
 
Dipilihnya kawasan Bintaran karena tidak terlalu jauh dengan pusat pemerintahan Loji Gede dan Loji Kecil, perekonomian dan fasilitas umum lainnya seperti bank, kantor pos dan pasar, dimana kebanyakan penghuninya merupakan pegawai kantor, pabrik gula dan pura pakualaman.
 
Arsitektur bangunan rumah di kawasan Bintaran hampir serupa dengan bangunan di kawasan Loji Kecil, namun ukuran rumah dan halamannya lebih besar dan luas. Beberapa bangunan masih ada dan bisa dilihat karena telah ditetapkan sebagai warisan cagar budaya yang harus dipertahankan keasliannya.
 
Sasmita Loka merupakan salah satu bangunan bekas jaman kolonial yang dahulu menjadi tempat kediaman Panglima Besar Jenderal Besar Soediman dan saat ini menjadi Museum Soedirman. Rumah yang dibangun pada tahun 1890 itu sebelumnya menjadi tempat tinggal George Weijnschenk, seorang suikerplaanter atau pemilik Pabrik Gula Padokan dan Pabrik Gula Barongan serta pemilik tanah di wilayah Sonosewu, Kratil, Tendeng, Kwini dan Ngoto.
 
Beberapa rumah tempat tinggal di kawasan Bintaran dibangun dengan gaya indische woonhuizen yaitu bangunan rumah satu tingkat dengan tiga pintu di depan, kolom atau tiang besar di beranda, dua beranda dan koridor serta dua/tiga kamar di bagian kanan dan kiri serta bangunan di samping atau paviliun, yang disebut bijgebouwen berbentuk L atau U, dengan atap yang tinggi dan lantai marmer italia masih dipertahankan.
 
Gaya indische woonhuizen digunakan untuk membangun rumah disana karena untuk menunjukkan strata sosial kelas atas orang Belanda yang lebih tinggi, sehingga bangunannya harus berbeda dengan golongan pribumi, selain untuk beradaptasi dengan iklim Indonesia yang tropis dengan asal mereka dari daerah dingin, sehingga bangunannya dibuat tinggi dengan pintu dan jendela yang tinggi dan berukuran besar agar ruangan di dalam rumah terasa sejuk dan nyaman.
 
Di kawasan Bintaran juga terdapat Gereja Santo Yusuf yang didisain oleh J. H. van Oijen BNA dan dibangun oleh Hollandsche Beton Matschappij ini diresmikan pada tahun 1934 selain rumah tempat tinggal yang masih terlihat sebagaimana aslinya, bahkan beberapa bangunan
 
Museum Biologi yang berada di jalan Sultan Agung dahulu merupakan tempat tinggal pengawas militer Pura Pakualaman. Di sebelah Timur kawasan Bintaran terdapat Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan yang dahulu juga menjadi penjara Belanda, selain rumah yang tercatat pernah menjadi tempat tinggal John Henry Paul Sagers, warga Belanda dan sempat digunakan sebagai Kantor Komando Pemadam Kebakaran serta beberapa bangunan cagar budaya tersebut yang saat ini yang saat ini dimanfaatkan untuk berbagai fungsi seperti asrama mahasiswa, sekolah hingga restoran namun tetap mempertahankan bentuk dan arsitektur aslinya.
 
 
/HJ