KERATON YOGYAKARTA


16/01/2020 Administrator


KERATON YOGYAKARTA
 
KERATON YOGYAKARTA adalah Istana Raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, berasal dari kata karaton atau keratuan, yang berarti tempat tinggal para ratu (raja dalam bahasa jawa).
Keraton Yogyakarta selesai dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1756, membujur dari utara ke selatan terdiri dari beberapa bangunan berupa gedong atau gedung, yaitu bangunan yang berdinding dan bangsal, yaitu bangunan yang tidak berdinding, masing-masing dibatasi tembok tinggi dengan regol atau pintu gerbang, selain terdapat bangunan yang disebut tratag (berupa kanopi).
Keraton Yogyakarta dikelilingi dengan tembok tinggi sebagai benteng dan parit yang lebar, dengan keempat sudut benteng terdapat bastion sebagai tempat penjagaan dan pengintaian ke luar tembok serta gapura di lingkungan luar keraton berbentuk plengkung (lengkungan).
Komplek Keraton Yogyakarta terdiri dari tiga bagian, dimulai dari bagian depan keraton, bagian inti keraton dan bagian belakang keraton, yang masing-masing mempunyai berbagai bangunan dengan fungsinya.
 

denah-kraton-yogyakarta

 
BAGIAN DEPAN KERATON YOGYAKARTA
 
Gapura Pangurakan
Pada saat memasuki komplek Keraton Yogyakarta dari arah Utara (dari Titik KM.0) terdapat Gerbang Utama atau Gapura sebagai pintu masuk Komplek Keraton Yogyakarta yaitu Gapura Gladhag dan Gapura Pangurakan, yang terlihat seperti (pertahanan) berlapis.
Dahulu ada tiga gerbang/gapura, yaitu Gapura Gladhag, Gapura Pangurakan Jawi dan Gapura Pangurakan Lebet namun Gapura Gladhag yang tadinya berada di ujung Jalan Trikora/Pangurakan sekarang sudah tidak ada lagi, yang tersisa saat ini hanya tinggal Gapura Pangurakan njawi (njawi, bahasa Jawa yang artinya: luar) dan Gapura Pangurakan nglebet (nglebet, bahasa Jawa yang artinya: dalam).
Bangunan Gapura Pangurakan njawi terdapat di bagian Utara dan Bangunan Gapura Pangurakan nglebet terdapat di bagian Selatan, yang dulu di antara kedua gapura tersebut terdapat lapangan yang disebut Plataran Pangurakan, namun sekarang sudah menjadi bagian dari Jalan Trikora/Pangurakan.
Setelah melewati Gapura Pangurakan nglebet, di sebelah selatan terdapat Alun-Alun Ler atau Alun-Alun Lor (ler atau lor, bahasa Jawa yang artinya: Utara)
 
Alun-Alun Ler (Alun-Alun Utara)
Alun-alun merupakan lapangan berumput, dimana dulu berbentuk persegi dan dikelilingi oleh dinding pagar yang cukup tinggi, namun sekarang dinding ini tidak terlihat lagi kecuali di sisi timur bagian selatan. Tanah lapang itu sekarang sudah dipersempit dan hanya tersisa bagian tengahnya saja karena bagian pinggirnya digunakan sebagai jalan beraspal untuk lalu-lintas.
Di pinggiran dan di tengah Alun-alun ditanami total sebanyak 64 pohon beringin. Dua pohon beringin yang berada di tengah Alun-Alun diberi nama Kyai Dewadaru (Kyai Dewatadaru) dan Kyai Janadaru (Kyai Jayadaru/Wijayadaru) serta diberi pagar dan disebut Waringin Sengkeran atau Ringin Kurung. Dahulu, hanya Sultan dan Pepatih Dalem saja yang boleh berjalan melewati di antara kedua pohon beringin itu.
Selain itu terdapat dua pohon beringin yang mengapit jalan pengurakan, dinamai Kyai Wok, berasal dari kata Brewok, berada di bagian sisi Barat dan Kyai Jenggot, di bagian sisi Timur serta dua pohon beringin di depan bangsal pagelaran yang dinamai Binatur, di sisi Barat dan Agung atau Gung di sisi Timur.
Di sela-sela pohon beringin yang terdapat di pinggir sisi utara, timur dan barat dulu terdapat pendopo kecil yang disebut dengan Pekapalan untuk tempat transit dan penginapan bagi para bupati dari daerah mancanegara Kesultanan, namun bangunan itu sekarang sudah beralih fungsi atau sudah tidak ada lagi.
Alun-alun Lor dulu digunakan oleh rakyat untuk melakukan Tapa Pepe saat Pisowanan Ageng sebagai bentuk keberatan atas kebijakan pemerintah dan abdi dalem Keraton akan menemui, mendengarkan keluh kesah mereka dan menyampaikannya kepada Sultan yang ada di Sitihinggil, selain juga digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara dan upacara kerajaan yang melibatkan rakyat banyak, diantaranya adalah Upacara Grebeg, Sekaten atau WatanganRampogan Macan, Pisowanan Ageng dan sebagainya, hingga kini Alun-alun Utara masih sering digunakan sebagai tempat untuk berbagai acara oleh masyarakat.
 
Mesjid Gedhe Kasultanan Keraton Yogyakarta
Di sebelah Barat Laut Keraton Yogyakarta atau di Timur Alun-Alun Ler terdapat Masjid Gedhe Kasultanan atau Masjid Besar Yogyakarta atau juga disebut dengan Mesjid Gedhe Kauman yang dikelilingi dinding, dengan pintu utamanya di sisi timur dan pintu utara untuk memasuki area Masjid.
Bangunan induk masjid dengan arsitektur berbentuk tajug persegi tutup dengan atap bertumpang tiga. Serambi masjid berbentuk joglo persegi panjang terbuka, dengan lantai mesjid induk yang dibuat lebih tinggi dari lantai serambi mesjid dan lantai serambi juga lebih tinggi dari halaman masjid. Di sisi timur, selatan dan utara Mesjid terdapat kolam kecil untuk mencuci kaki sebelum masuk ke masjid.
Di dalam Mesjid terdapat Mihrab atau mimbar bertingkat tiga yang terbuat dari kayu dan Maksura, bangunan mirip sangkar.
Di sebelah selatan dan utara halaman masjid terdapat bangunan yang dinamakan Pagongan Ler dan Pagongan Kidul, dimana pada saat upacara Sekaten, Pagongan Ler di gunakan untuk menempatkan Gamelan Saketi - Kangjeng Kyai Naga Wilaga dan di Pagongan Kidul untuk menempatkan Gamelan Saketi - Kangjeng Kyai Guntur Madu.
 
 
BAGIAN INTI KERATON YOGYAKARTA
Keraton Yogyakarta terdiri dari tujuh kompleks inti, yaitu (1) Pagelaran dan Sitihinggil LorBalairung Utara, (2) Kamandungan Ler, (3) Srimanganti, (4) Kedhaton, (5) Kemagangan, (6) Kamandungan Kidul dan (7) Sitihinggil Kidul.
Saat ini, selain digunakan untuk upacara adat keraton, juga bisa di kunjungi oleh para wisatawan.
 
Kompleks Pelataran Pagelaran
Bangunan utama dan paling Utara dari Keraton Yogyakarta adalah Bangsal Pagelaran yang dahulu di kenal dengan nama Tratag Rambat. Tempat ini dahulunya digunakan oleh para abdi dalem yang menghadap Sultan pada upacara resmi, yang terlihat dari arah Alun-Alun Utara. Di area ini terdapat beberapa bangsal:
Bangsal Pemandengan yang terletak di sebelah Timur dan Barat Bangsal Pagelaran, dulu digunakan oleh Sultan untuk melihat latihan perang di Alun-alun Ler.
Bangsal Pengapit atau Pasewakan, di sisi luar sayap timur dan sayap barat Bangsal Pagelaran, dulu digunakan oleh para Panglima Kesultanan pada saat menunggu giliran untuk melaporkan kepada Sultan atau menerima pemerintah dari Sultan serta digunakan juga sebagai tempat jaga Bupati Anom Saba.
Bangsal Pengrawit terletak di sayap timur bagian selatan Tratag pagelaran, dulu digunakan oleh Sultan untuk melantik Pepatih Dalem.
Di Komplek ini pernah digunakan oleh Universitas Gadjah Mada untuk kegiatan belajar-mengajar sebelum memiliki kampus di Bulaksumur.
Bangsal Pacikeran terdapat di Selatan Bangsal Pangrawit di sebelah kiri dan kanan jalan menuju Bangsal Sitihinggil, yang digunakan oleh para Abdi Dalem Martolutut dan Abdi Dalem Singonegoro.
Selanjutnya terdapat anak tangga untuk memasuki Komplek Sitihinggil.
Di komplek ini terbuka untuk dikunjungi oleh wisatawan.
 
Kompleks Sitihinggil
Komplek atau Pelataran Sitihinggil terletak di sisi selatan Kompleks Pelataran Pagelaran yang secara tradisi digunakan untuk penyelenggaraan upacara resmi kerajaan serta dibuat lebih tinggi dari tanah dan sekitarnya dengan jarak 2 jenjang untuk naik. Di komplek ini terdapat beberapa bangsal dan bangunan utama, yaitu:
Bangsal Kori, terletak di bagian Utara (Barat Laut dan Timur Laut) dari Bangsal Sitihinggil, sebagai tempat Abdi Dalem Kori dan Abdi Dalem Jaksa yang bertugas untuk menyampaikan permohonan maupun pengaduan rakyat kepada Sultan.
Bangunan Tarub Agung yang terletak di ujung Utara Bangsal Sitihinggil, berbentuk kanopi persegi panjang dengan empat tiang, dulu digunakan oleh para pembesar untuk transit dan menunggu masuk ke bagian dalam istana.
Bangsal Sitihinggil merupakan bangsal utama yang digunakan oleh Sultan untuk siniwaka dan lenggah dampar atau duduk di singgasana, di dalamnya terdapat
Bangsal Manguntur Tangkil terletak bagian tengah Bangsal Sitihinggil merupakan tempat Sultan duduk di singasana pada saat acara resmi keraton seperti pelantikan Sultan dan Pisowanan Ageng atau pertemuan besar para petinggi kesultanan.
Bangsal Witono terletak di bagian selatan Bangsal Manguntur Tangkil, dengan lantai utama yang lebih besar dan lebih tinggi, digunakan untuk meletakkan lambang dan pusaka keraton pada saat acara resmi.
Bale Bang, terletak di sisi Timur Bangsal Manguntur Tangkil, yang digunakan untuk menyimpan Gamelan Sekaten, Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga.
Bale Angun-angun, terletak di sisi Barat Bangsal Manguntur Tangkil, yang digunakan untuk menyimpan Tombak Kanjeng Kyai Suro Angun-angun.
Di sisi paling selatan dari Komplek Sitihinggil, terdapat lorong dengan tembok dinding Cepuri yang tinggi membujur ke arah Timur dan Barat serta gerbang besar yang bernama Regol Brojonolo sebagai penghubung antara Komplek Sitihinggil dengan Komplek Kamandungan Lor.
Di komplek ini terbuka untuk dikunjungi oleh wisatawan, namun tidak bisa melewati Regol Brojonolo karena selalu tertutup, kecuali untuk acara resmi Keraton.
 
Kompleks Pelataran Kamandungan Ler (Kamandungan Utara)
Komplek Kemandungan Ler yang juga disebut sebagai Pelataran Keben, karena di halamannya banyak ditanami dengan pohon Keben, merupakan bagian dari Keraton Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Komplek Sitihinggil dimana untuk menuju ke sana harus melewati Regol Brojonolo, yang terdapat beberapa bangunan, yaitu:
Regol Brojonolo, adalah gerbang antara Komplek Sitihinggil dengan Komplek Kamandungan Lor, yang hanya hanya dibuka pada saat acara resmi keraton, setiap hari selalu dalam keadaan tertutup.
Untuk dapat masuk ke Kompleks Kamandungan Lor sekaligus kompleks dalam Keraton sehari-hari melalui pintu Gapura Keben yang berada di sisi Timur (dari Jalan Rotowijayan) dan di sisi Barat (dari Jalan Kemitbumen).
Bangsal Ponconiti berada di tengah-tengah halaman di mana bangunan ini merupakan bangunan utama di Kompleks ini. dulu bangsal ini digunakan untuk mengadili perkara dengan ancaman hukuman mati dan mengadili perkara yang berhubungan dengan keluarga kerajaan dimana Sultan sendiri yang memimpin pengadilan. Saat ini Bangsal Ponconiti digunakan dalam acara adat seperti Grebeg dan Sekaten.
Balai Anti Wahana, kanopi di sisi selatan Bangsal Ponconiti untuk menerima tamu yang turun dari kendaraannya.
Bangsal Pacaosan berada sisi Selatan bagian Barat dan Timur Komplek Kamandungan Ler, sebagai tempat jaga para abdi dalem yang sedang melaksanakan caos atau tugas.
Di Pelataran Kamandhungan Lor sisi Barat Bangsal Ponconiti juga terdapat pohon beringin.
Di sisi paling selatan, terdapat gerbang penghubung Komplek Pelataran Kamandungan Ler ke komplek berikutnya yaitu Pelataran Simanganti yaitu Regol Srimanganti atau Regol Kamandungan.
Di komplek ini terbuka untuk dikunjungi oleh wisatawan.
 
Kompleks Pelataran Srimanganti
Merupakan bagian dari Keraton Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Komplek Pelataran Kamandungan Ler dimana untuk menuju ke sana harus melewati Regol Srimanganti atau Regol Kamandungan, di Komplek Srimanganti terdapat beberapa bangunan, yaitu:
Regol Srimanganti atau Regol Kamandungan, adalah gerbang antara Komplek Pelataran Kamandungan Lor dan Komplek Pelataran Srimanganti.
Bangsal Srimanganti di bagian Barat Pelataran Srimanganti yang berfungsi untuk mementaskan kesenian budaya Keraton Yogyakarta dan sebagai tempat Sultan menjamu tamu.
Bangsal Trajumas di bagian Timur Pelataran Srimanganti yang digunakan untuk menyimpan benda pusaka milik Keraton Yogyakarta.
Bangsal Pacaosan di sisi Utara Pelataran Srimanganti, sebagai tempat jaga para abdi dalem yang sedang melaksanakan caos atau tugas.
Bangsal Pacaosan Bupati Nayaka di sisi Selatan Pelataran Srimanganti, sebagai Kantor Tepas Dwarapura, Kantor Tepas Halpitapura dan Kantor Keamanan Keraton.
Di sisi paling selatan, terdapat gerbang penghubung Komplek Pelataran Simanganti ke komplek berikutnya yaitu Regol Danapratapa.
Di komplek ini terbuka untuk dikunjungi oleh wisatawan.
 
Kompleks Pelataran Kedhaton
Komplek Pelataran Kedhaton terletak di bagian selatan dari Komplek Pelataran Srimanganti, yang menjadi pusat Keraton Yogyakarta dan mempunyai hierarki tertinggi, dengan beberapa bangunan yang masih dianggap sakral.
Komplek ini dibagi menjadi 3 bagian halaman, yaitu Pelataran Kedaton sebagai bagian Sultan, Keputren sebagai bagian istri atau para istri (Selir) dan para putri Sultan, serta Kesatrian, sebagai bagian putra-putra Sultan. Beberapa bangunan disana adalah:
Regol Danapratapa, untuk menghubungkan Pelataran Srimanganti yang berada di bagian Utara menuju komplek Pelataran Kedhaton, yang di depannya terdapat sepasang Arca Raksasa Dwarapala, dimana yang disebelah Timur dinamakan Cinkorobolo dan yang disebelah Barat dinamakan Bolobuto.
Bangsal Kencana merupakan bangsal utama di bagian Timur Pelataran Kedhaton dan menghadap ke Timur, yang digunakan untuk menyelenggarakan upacara-upacara penting, dimana di keempat sisi bangunan ini terdapat Tratag Bangsal Kencana, yang dulu digunakan untuk latihan menari.
Gedhong Prabayeksa, di sebelah barat Bangsal Kencana dan menghadap ke Selatan, digunakan untuk menyimpan pusaka berupa Tahta Sultan dan Lambang Keraton. 
Gedhong Jene, di bagian utara Ndalem Ageng Proboyekso, merupakan tempagt tinggal resmi Sultan yang bertahta, namun digunakan sebagai Kantor pribadi Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Gedhong Purwaretna, di sebelah timur laut Gedung Jene, menghadap ke arah Bangsal Kencana di sebelah Selatan, merupakan satu-satunya bangunan bertingkat di dalam Keraton yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono V menjadi Kantor Kawedanan Ageng Sri Wandawa
Bangsal Manis, di sebelah selatan Bangsal Kencana dan menghadap ke arah Timur, sebagai tempat perjamuan resmi Keraton untuk menjamu para tamu dan pada bulan Suro, tempat ini digunakan untuk membersihkan pusaka kerajaan.
Bangsal Kotak, dua bangsal di depan Bangsal Kencana digunakan sebagai tempat penari menunggu giliran berpentas.
Bangsal Mandhalasana, di sebelah Timur Laut Bangsal Kencana berbentuk bulat segi delapan, digunakan sebagai tempat Abdi Dalem Sangkabawa (peniup terompet/seruling) dan Abdi Dalem Musikanan untuk memainkan musik.
Gedhong Kantor Parentah Hageng, di sisi utara sebelah Timur Pelataran Kedhaton menghadap ke Selatan, dulu adalah Bangsal Pragnyapustaka dan Gedong Sanahartaka, namun sekarang menjadi Kantor Pengelola Keraton.
Gedhong Gangsa, di sisi Timur bagian Utara Pelataran Kedhaton menghadap ke Barat, tempat menyimpan Kagungan Dalem Gangsa/Gamelan Laras Slendro dan di bagian Selatan tempat menyimpan Kagungan Dalem Gangsa/Gamelan Laras Pelog.
Kori/regol Gapura, di antara Bale Subamanggala, tempat piket para Abdi Dalem.
Gedhong Sarangbaya di sisi Timur bagian Selatan Pelataran Kedhaton, digunakan sebagai ruang rekreasi Sultan dan tempat menyediakan minuman keras bagi tamu asing.
Gedhong Danartapura, di sisi Selatan sebelah Timur Komplek Kedhaton, menjadi Kantor Tata Usaha Keraton.
Gedhong Patehan di sisi Selatan sebelah Timur Komplek Kedhaton, tempat membuat minuman untuk keluarga Sultan.
Kasatriyan, dibagian paling Timur Komplek Kedhaton, tempat tinggal putra-putra Sultan yang belum menikah.
Kaputren, dibagian Barat Komplek Kedhaton, tempat tinggal putri-putri raja yang belum menikah
Masjid Panepen, tempat ibadah keluarga istana
Museum Batik, di sisi Timur bagian Utara Komplek Kedhaton
Museum Hamengku Buwono IX
Museum Keramik dan Kristal, di sisi Timur bagian Utara Komplek Kedhaton
Museum Lukisan, di sisi Timur bagian Selatan Komplek Kedhaton
Kraton Kilen, di sisi paling Barat Komplek Kedhaton yang menjadi tempat tinggal keluarga Sri Sultan Hamengku Buwana X.
Gedhong Trajutrisna
Gedhong Sedahan
Gedhong Kantor Widyabudaya (Kraton Wetan)
Di komplek ini terbuka untuk dikunjungi oleh wisatawan, kecuali beberapa bangsal dan gedhong tidak diperkenankan untuk dikunjungi, termasuk Kasatriyan dan Kaputren.
Di sisi paling selatan, terdapat gerbang penghubung Komplek Pelataran Kedhaton ke komplek berikutnya yaitu Regol Kemagangan.

Kompleks Pelataran Kemagangan
Komplek Pelataran Kemagangan terletak di bagian selatan dari Komplek Pelataran Kedhaton, yang terdapat beberapa bangunan, yaitu:
Regol Kamagangan, pintu gerbang ke halaman Pelataran Kemagangan, dimana dinding penyekat sebelah utara terdapat patung dua ekor ular yang menggambarkan tahun berdirinya Keraton Yogyakarta, sedangkan di sisi selatannya pun terdapat dua ekor ular di kanan dan kiri gerbang yang menggambarkan tahun yang sama.
Bangsal Kemagangan, berada di tengah halaman besar, digunakan sebagai tempat upacara Bedhol Songsong, atau pertunjukan wayang kulit yang menandai selesainya seluruh prosesi ritual di Keraton, tempat untuk menerima para calon Pegawai Abdi Dalem magang, tempat berlatih dan ujian, serta apel kesetiaan para Abdi Dalem Magang dan digunakan untuk pementasan wayang kulit.
Panti Pareden, disebelah Tenggara dan Barat Daya, tempat pembuatan gunungan untuk upacara garebeg
Bangsal Pacaosan, tempat penjagaan keamanan oleh abdi dalem.
Pawon Ageng Sekul Langen dan Pawon Ageng Kebulen, di sisi Timur Pelataran Kemagangan, digunakan untuk memasak nasi langi dan nasi kebuli.
Gapura di bagian Timur Bangsal Kemagangan yang menjadi pintu ke Jalan Suryoputran dan Gapura di bagian Barat Bangsal Kemagangan menjadi pintu ke Jalan Magangan.
Di Pelataran Kemagangan ini juga terdapat pohon beringin yang ditanam di antara regol dan bangsal oleh Sultan Hamengku Buwono VIII saat bertahta dan dinamai Sri Makutha Raja.
Di sebelah selatan Bangsal Kemagangan terdapat sebuah Jalan yang menghubungkannya dengan kompleks Kamandungan Kidul, dimana dulu di bagian pertengahan terdapat jembatan gantung melintasi kanal Taman Sari yang menghubungkan dua danau buatan di barat dan timur Kompleks Taman Sari. Di sebelah barat terdapat dermaga kecil yang digunakan oleh Sultan untuk naik perahu melintasi kanal untuk berkunjung ke Taman Sari Keraton.
Pelataran Kemagangan terhubung dengan Pelataran Kamandungan Kidul (Kamandungan Selatan) melalui Regol Gadhung Mlati.
 
Kompleks Pelataran Kamandungan Kidul
Komplek Pelataran Kamandungan Kidul terletak di bagian Selatan dari Komplek Pelataran Kemagangan, yang dihubungkan oleh Regol Gadhung Mlati, terdapat beberapa bangunan, yaitu:
Bangsal Kamandungan, merupakan bangsal tertua dan dulunya merupakan tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono I saat perang melawan VOC.
Bangsal Pacaosan, tempat penjagaan keamanan oleh abdi dalem
Plataran Kamandungan Kidul terhubung dengan Komplek Pelataran Sitihinggil Kidul melalui Regol Kemandungan Kidul.
Pelataran Pelataran Kamandungan Kidul terhubung dengan Pelataran Sitihinggil Kidul melalui Regol Kamandungan yang menjadi pintu paling selatan dari kompleks cepuri.
Di antara kompleks Pelataran Kamandungan Kidul dan Pelataran Sitihinggil Kidul terdapat jalan yang dinamakan Pamekangan.
 
Kompleks Pelataran Sitihinggil Kidul
Komplek Pelataran Sitihinggil Kidul terletak di bagian Selatan dari Komplek Pelataran Kamandungan Kidul dan merupakan Komplek Pelataran paling Selatan, dimana di Selatan Pelataran Sitihinggil Kidul terdapat Alun-alun Kidul (Alun-alun Selatan).
Di sisi timur, utara, barat dari komplek ini terdapat jalan kecil yang disebut dengan Jalan Pamengkang yang setiap harinya dilalui orang berlalu lalang
Di komplek ini permukaan tanah pada bangunan disini ditinggikan dari permukaan tanah di sekelilingnya, hanya terdapat satu bangunan yaitu:
Bangsal Sitihinggil atau Gedung Sasana Hinggil Dwi Abad, yang dibangun pada tahun 1956 untuk memperingati kota Yogyakarta yang ke 200 tahun, dulu digunakan sebagai tempat raja menyaksikan prajurit yang berlatih gladi bersih sebelum Upacara Garebeg, tempat menyaksikan Rampogan, yaitu adu manusia dengan macan dan untuk berlatih para prajurit perempuan Langen Kusumo.
Di tempat ini juga menjadi prosesi awal perjalanan panjang Upacara Pemakaman Sultan yang mangkat dari Keraton ke pemakaman kerajaan di Imogiri.
Saat ini Siti Hinggil Kidul sering digunakan untuk pertunjukan umum seperti Pagelaran Seni khususnya wayang kulit pameran dan sebagainya.
 
 
BAGIAN BELAKANG KERATON YOGYAKARTA
 
Alun-Alun Kidul
Alun-alun Kidul atau Alun-alun Selatan disebut Pangkeran, yang  artinya belakang. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki dengan lima gapura, satu gapura berada di sisi selatan, dua  gapura berada di sisi Timur dan Barat, serta terdapat Nggajahan, sebuah kandang gajah milik Sultan. Alun-alun ini dikelilingi oleh tanaman pohon mangga, pohon Pakel dan kweni, serta dua pasang pohon beringin, dimana sepasang Pohon Beringin terdapat di tengah Alun-alun, dinamakan Sepit Urang dan sepasang Pohon Beringin ditanam di kanan dan kiri Gapura sisi selatan yang dinamakan dengan Kyai Wok.
Gapura di sisi selatan terdapat jalan Gading yang menghubungkan Alun-alun Kidul dengan Plengkung Nirbaya.
 
Plengkung Nirbaya
Plengkung Nirbaya merupakan bangunan paling selatan dari Keraton Yogyakarta, dimana dari tempat inilah Sultan Hamengku Buwono I masuk ke Keraton Yogyakarta saat perpindahan pusat pemerintahan dari Kedaton ke Ambarketawang. Selanjutnya secara tradisi Keraton digunakan sebagai rute keluar untuk prosesi pemakaman Sultan menuju ke Pemakaman Imogiri, sehingga tempat ini kemudian terlarang dan tertutup bagi Sultan yang sedang bertahta untuk melewatinya.
 
 
BANGUNAN KERATON LAINNYA
Selain di lingkungan Komplek Keraton Yogyakarta, terdapat beberapa bangunan lainnya di seputar Keraton, yaitu:
 
Benteng Baluwerti
Pada masa Sultan Hamengku Buwono II, Keraton Yogyakarta di kelilingi oleh benteng setinggi 3,5 meter dengan lebar sekitar 4 meter, yang memungkinkan kereta kuda melintas di atasnya. Saat ini benteng tersebut hanya tersisa di sisi Selatan sebelah Timur Keraton Yogyakarta.
 
Bastion di sudut Benteng
Di bagian pojok benteng yang mengelilingi Keraton Yogyakarta terdapat bastion, yaitu tempat untuk penjagaan dan mengntai musuh yang ada di luar benteng, saat ini dikenal sebagai Pojok Benteng (Jokteng), lokasinya:
Bastion Benteng Lor atau Pojok Benteng Utara (Jokteng Lor) , masih ada.
Bastion Benteng Kulon atau Pojok Benteng Barat (Jokteng Kulon), masih ada.
Bastion Benteng Wetan atau Pojok Benteng Timur (Jokteng Wetan), masih ada.
Bastion Benteng Lor atau Pojok Benteng Utara (Jokteng Lor), sudah tidak ada.
 
Gapura dengan Plengkung
Dulu terdapat beberapa pintu masuk ke dalam Komplek Keraton Yogyakarta, berupa bangunan gapura dengan plengkung yang menyerupai terowongan, yaitu:
Plengkung Tarunasura (Pengkung Wijilan) di sebelah Timur Laut Komplek Keraton Yogyakarta, masih ada.
Plengkung Jogosura (Plengkung Ngasem) di sebelah Barat Daya Komplek Keraton Yogyakarta, tinggal gapura saja, sudah tidak ada plengkungnya.
Plengkung Jogoboyo (Plengkung Tamansari) di sebelah Barat Komplek Keraton Yogyakarta, tinggal gapura saja, sudah tidak ada plengkungnya.
Plengkung Nirboyo (Plengkung Gading) di sebelah Selatan Komplek Keraton Yogyakarta, masih ada.
Plengkung Tambakboyo (Plengkung Gondomanan) di sebelah Timur Komplek Keraton Yogyakarta, sudah tidak ada bekasnya.