MASJID GEDHE MATARAM


02/02/2020 Administrator


Masjid Gedhe Mataram merupakan masjid tertua di Yogyakarta, berada di Jalan Masjid Besar, Jagalan, Banguntapan, Bantul, di sebelah selatan Pasar Legi Kotagede, pada awalnya berupa sebuah langgar hanya untuk keperluan keluarga, yang dibangun saat Ki Ageng Pemanahan dan puteranya Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati ing Ngalaga Sayiddin Panatagama membuka Hutan dan menjadikannya sebagai tempat hunian. Baru pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati Senapati ing Ngalaga Mataram dibangun menjadi masjid dan pada masa kepemimpinan Sultan Agung Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman ditambah dengan serambi hingga dilakukan renovasi oleh Paku Buwono X, Raja Kasunanan Surakarta.
 
Desain arsitektur Masjid Gedhe Mataram banyak dipengaruhi oleh 4 kebudayaan, yaitu budaya Islam, Hindu, Jawa dan Cina.
Budaya Islam yang dapat dilihat pada bangunan utama masjid, terdiri dari Liwan (ruangan utama tempat jamaah beribadah), Mihrab (tempat khusus untuk berdiri Imam sholat) dan Maksura (tempat khusus Raja untuk menunaikan sholat).
Budaya Hindu dapat dilihat pada penampilan luar kompleks masjid, yang ditandai dengan gapura berbentuk Paduraksa (gapura yang sering digunakan pada candi dan pura) dan aling-aling atau kelir (tembok pembatas).
Budaya Jawa melekat pada tata ruang, dimulai dari area paling luar yang menyerupai alun-alun dan adanya pohon beringin bernama Wringin Sepuh, bangunan Pacaosan sebagai tempat perantara atau tempat menunggu untuk berkegiatan di masjid, serambi masjid sebagai tempat kegiatan yang bersifat kemaslahatan (kepentingan masyarakat) seperti ijab qabul pernikahan dan peradilan masyarakat serta jagang atau parit yang mengelilingi dinding pagar luar sebagai pertahanan dan mengelilingi emper masjid (bangunan lanjutan dari serambi) sebagai tempat untuk menyucikan kaki sebelum masuk masjid.
Budaya Cina terlihat dalam teknologi bangunan dalam pemasangan sambungan atap Tajug Lambang Gantung dengan atap limasan pada serambi menggunakan talang dari plat besi berbentuk cekung setengah bola yang merupakan teknologi pertukangan Cina dan teknik pondasi umpak batu alam.
 
Sebelum memasuki halaman kompleks Masjid Gedhe Mataram terdapat beberapa rumah di kanan dan kiri jalan masuk yang disebut Dhondhongan, yaitu tempat tinggal para dhondhong atau juru doa yang memandu para peziarah makam. Konon para dhondhong adalah keturunan Nyai Pringgit, orang yang memberikan bedug kepada Kerajaan Mataram Islam yang berasal dari Desa Dondongan, daerah perbatasan Kabupaten Kulon Progo dan Purworejo, yang kemudian menjadi abdi dalem dan bertugas menjaga serta merawat kompleks masjid. Hingga sekarang bedug yang diberi nama Kiai Dhondhong tersebut masih ditabuh ketika memasuki waktu sholat dan pada awal bulan Ramadhan dibunyikan bertalu-talu sebagai penanda dimulainya rangkaian ibadah puasa. Selain bedug, Masjid Gedhe Mataram juga pernah menerima mimbar kayu ukir pemberian dari Sultan Palembang untuk Sultan Agung yang hingga saat ini masih digunakan sebagai tempat khutbah khotib sholat Jumat.
 
Di halaman kompleks masjid terdapat sebuah tugu jam simbol akulturasi Kerajaan Mataram dan Kasunanan Surakarta yang berprasasti lambang Paku Buwono X sebagai monumen penanda pembangunan dan perluasan kompleks masjid.
Dari halaman masjid ke arah selatan terdapat Bangsal Duda yaitu tempat para abdi dalem Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta bergiliran menjaga kompleks Makam Raja-Raja Mataram yang hanya dibuka pada hari Senin, Kamis dan Jumat usai sholat Jumat. Disana terdapat 64 makam keluarga raja Mataram, diantaranya Panembahan Senopati, Prabu Hanyakrawati (Panembahan Seda Krapyak), Sultan Hamengku Buwana II, dan Pangeran Adipati Paku Alam I.
Di sisi barat daya kompleks makam terdapat tempat pemandian bernama Sendang Seliran yang terbagi dalam 2 area, yaitu Sendang Kakung (laki-laki) dan Sendang Putri (perempuan), berfungsi sebagai tempat bersuci dan berganti pakaian bagi peziarah sebelum memasuki kompleks makam, karena bagi peziarah perempuan diwajibkan mengenakan kain jarik panjang dan kemben untuk menutupi bagian dada, sedangkan peziarah laki-laki harus mengenakan jarik panjang dan baju peranakan (lurik seperti yang dikenakan para abdi dalem) atau beskap putih/hitam lengkap dengan kerisnya.
 
Masjid Gedhe Mataram adalah salah satu cagar budaya di Jogja dan destinasi wisata religi yang ramai didatangi pengunjung, khususnya menjelang hingga berakhirnya bulan Ramadhan. Sebelum bulan Ramadhan tiba, masyarakat setempat dan pengunjung dari dalam serta luar kota berbondong-bondong mengunjungi makam untuk melakukan tradisi padusan yaitu ritual membersihkan dan menyucikan diri di Sendang Seliran lalu berziarah ke kompleks Makam Raja-Raja Mataram. Sedangkan selama bulan Ramadhan Masjid Gedhe Mataram memiliki beragam agenda keagamaan, antara lain pengajian menjelang buka puasa, sholat tarawih berjamaah, dan kuliah pagi atau pengajian yang dilaksanakan setelah sholat subuh. Uniknya, sholat tarawih berjamaah di Masjid Gedhe Mataram dilakukan dua kali, yaitu setelah adzan isya dan pada dua per tiga malam atau sekitar pukul 02.00-03.00 WIB, untuk memfasilitasi jamaah yang ingin sholat tarawih dengan lebih khusyu.
 
/ND