MASJID SOKO TUNGGAL


08/04/2020 Administrator


Sebagai kerajaan Islam yang memiliki sejarah panjang, Keraton Yogyakarta memiliki beberapa peninggalan berupa masjid yang tersebar di wilayah Jogja, salah satunya Masjid Keraton Soko Tunggal yang terkenal dengan keunikan bangunannya.
 
Masjid yang berada di kompleks Taman Sari ini hanya memiliki satu buah saka guru (tiang penyangga utama), yang biasanya bangunan berkonsep Jawa disangga oleh minimal empat batang saka guru.
 
soko-tunggal
 
Dulunya, lahan yang digunakan untuk membangun masjid ini seperempatnya adalah makam, hingga kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono IX memerintahkan untuk dibangun masjid.
 
Menurut prasasti yang tertera pada dinding depan, Masjid Soko Tunggal selesai dibangun pada hari Jumat Pon tanggal 21 Rajab tahun Be yang ditandai dengan candra sengkala "Hanembah Trus Gunaning Janma" 1392H atau 1 September 1972 dengan surya sengkala "Nayana Resi Anggatra Gusti" dan diresmikan pada hari Rabu Pon tanggal 28 Februari 1973 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Masjid ini dilengkapi dengan gapura atau pintu masuk di sebelah kanan, ruang utama dan serambi yang mampu menampung sekitar 600 jamaah.
 
Perancang Masjid Soko Tunggal ini adalah Raden Ngabehi Mintobudoyo yang merupakan arsitek Keraton Yogyakarta terakhir. Desain bangunan ini berbentuk tajug, dengan satu tiang (saka tunggal) yang terletak di tengah ruang utama. Saka guru ini terbuat dari kayu jati utuh yang didatangkan langsung dari Cepu dan saat ditebang usianya 150 tahun.
 
Pada bagian atas batang saka guru terdapat empat batang saka bentung sehingga jumlah keseluruhan batang yang menyangga masjid ini ada lima yang menyimbolkan Pancasila, dimana saka guru merupakan lambang sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) sementara usuk sorot atau peniung (batang yang memusat seperti jari-jari payung) merupakan lambang kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya.
 
Dari aspek konstruksi, bangunan Masjid Soko Tunggal memiliki banyak bentuk yang sarat makna, yaitu : (1) Bahu danyang, melambangkan orang yang sholat di masjid ini menjadi orang yang kuat menghadapi godaan iblis yang datang dari empat penjuru dan lima pancer, (2) Sunduk berarti menjalar untuk mencapai tujuan, (3) Santen berarti bersih suci, bisa juga diartikan sebagai kejujuran, (4) Uleng berarti wibawa, (5) Singup berarti keramat, (6) Bandoga berarti hiasan pepohonan atau tempat harta karun, (7) Tawonan berarti gana, manis, penuh.
 
Rangka-rangka pada masjid ini juga memiliki makna filosofis tersendiri, yang menggunakan: Soko brunjung melambangkan upaya mencapai keluhuran wibawa; Dudur sebagai lambang ke arah cita-cita kesempurnaan hidup; Sirah godo yang melambangkan kesempurnaan senjata yang ampuh (diartikan sebagai kesempurnaan jasmani dan rohani) dan Mustoko yang melambangkan keluhuran dan kewibawaan.
 
Keistimewaan lain dari Masjid Soko Tunggal, dimana seluruh bangunan utamanya tidak disambung dengan menggunakan paku sama sekali. Masjid ini juga menyuguhkan berbagai ukiran yang selain menambah keindahan masjid juga sarat akan makna, seperti adanya Ukiran praba, berarti Bumi, tanah, kewibawaan; Ukiran saton, berarti menyendiri, sawiji; Ukiran sorot, berarti sinar cahaya matahari; Ukiran tlacapan, berarti panggah atau tabah dan tangguh; Ukiran ceplok, berarti pemberantas angkara murka;Ukiran mirong, berarti maejan atau nisan, bermakna bahwa semuanya kelak pasti dipanggil oleh Allah dan Ukiran tetesan embun di antara daun dan bunga yang terdapat di balok uleng, berarti siapa yang salat di masjid ini semoga mendapat anugerah Allah.
 
 
/AI