PASAR SROWOLAN


14/04/2020 Administrator


Pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Indonesia mendirikan pasar yang sulit diakses penjajah agar roda perekonomian tetap berjalan dengan aman. Di tengah masa perang kemerdekaan II tahun 1948-1949, tentara Belanda yang telah menguasai Beran, Yogyakarta, seringkali melakukan konvoi untuk melakukan pembersihan dan penyerangan. Hal ini menyebabkan pasar-pasar yang ada di sekitar wilayah tersebut menjadi sepi, salah satunya Pasar Pakem. Namun, ada satu pasar yang justru ramai, dikenal sebagai Pasar Perjuangan Srowolan di Dusun Srowolan, Pakem, Sleman.
 
Pasar yang didirikan pada tahun 1921 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII ini berada di bawah administrasi Keraton Kesultanan Ngayogyakarta. Nama pasar Sorowulan berasal dari nama seorang empu wesi, yaitu Empu Aji Sorowulan yang konon pernah hidup dan menetap di tempat ini.
 
Pasar seluas 50 x 70 meter persegi ini pernah difungsikan sebagai posko para pejuang gerilya, dimana saat itu para tentara menyamar sebagai pedagang untuk saling bertukar informasi dan menyusun strategi perang sehingga tempat ini juga dikenal sebagai Pasar Perjuangan. Pasar Srowolan juga berperan sebagai tempat pengumpul dana dan sarana mempertahankan uang ORI (Oeang Republik Indonesia, mata uang pertama Indonesia) serta untuk mendapatkan basis logistik bagi para pejuang dan gerilyawan.
 
Berbagai jenis barang dijajakan di pasar ini mulai dari gabah, ternak, jagung, sayuran, makanan tradisional, pakaian, hingga perabotan rumah tangga. Biasanya, para pedagang yang membawa barang dagangan dari rumah masing-masing dengan berjalan kaki belasan sampai puluhan kilometer sudah berkumpul sejak pukul 04.00. Tak hanya dikunjungi warga setempat pedagang dan pembeli juga banyak yang berasal dari luar daerah seperti Klaten, Jawa Tengah. Keramaian pasar pada masa itu berlangsung dampai menjelang zuhur dan tak jarang jumlah pedegang meluap hingga ke ujung dusun.
 
Srowolan mulai sepi sejak Perang Dunia II berakhir, dimana kegiatan perdagangan pun turun drastis setelah pembangunan Pasar Pakem, Turi, dan Sleman selesai, yang membuat banyak pedagang beralih ke pasar yang lebih besar hasil pembangunan setelah masa kemerdekaan.
 
Kini, Pasar Srowolan hanya dibuka setiap hari pasaran Wage dalam sepekan, namun sepi pengunjung karena kalah bersaing dengan pasar tradisional lain yang letaknya lebih strategis dan dilalui angkutan umum serta kondisi pasar yang kurang terawat.
 
Saat ini masyarakat setempat masih bersemangat menghidupkan ikon Pasar Srowolan dengan menjadikannya bagian dari Desa Wisata Srowolan yang merupakan gabungan dari tiga pedukuhan, yaitu Pedukuhan Gatep, Pedukuhan Karanggeneng dan Pedukuhan Gandok Kadilobo. Selain menjadikan Pasar Srowolan sebagai obyek wisata, terdapat rumah tinggal Sayuti Melik, penulis naskah Proklamasi Kemerdekaan yang letaknya berada di Dusun Kadisobo, tak jauh dari pasar. Selain itu, ada pula bangunan tua bekas penyimpanan garam pada zaman Belanda yang terletak di sebelah utara Pasar Srowolan, serta rumah kuno berukuran 10 x 12 meter berbentuk Sinom yang merupakan penanda Kecamatan Pakem Lama.
 
 
/AI