TAMAN SARI


23/01/2020 Administrator


Taman Sari dikenal dengan nama Water Kasteel atau Istana Air ini berlokasi di Jalan Tamanan, Patehan, Keraton, Yogyakarta, merupakan salah satu cagar budaya warisan Keraton Yogyakarta, yang dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I di atas sebuah umbul atau mata air yang dikenal dengan nama Umbul Pacethokan di bekas keraton lama Pesanggrahan Garjitawati oleh seorang arsitek berkebangsaan Portugis yang dijuluki Demang Tegis, sehingga memiliki paduan corak bangunan gaya Eropa dan Jawa.
 
Taman Sari yang dijuluki The Fragrant Garden, seluas lebih dari satu hektar ini, membentang dari Barat Daya Pelataran Kedhaton sampai Tenggara Pelataran Kemagangan ini terdapat puluhan bangunan gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid dan lorong bawah tanah, yang dibangun dalam beberapa tahap sejak tahun 1758 sampai dengan 1765, sebagai tempat pemandian permaisuri dan puteri Sultan. Di sana dulunya terdapat dua buah danau buatan, di sisi Timur disebut Pulo Gedhong dengan pulau buatan di tengahnya dan di sisi Barat disebut Pulo Kenanga juga dengan pulau buatan di tengahnya yang dihubungkan dengan suatu kanal yang ditumbuhi aneka tanaman buah dan memotong lorong penghubung Pelataran Kemagangan dan Pelataran Kamandhungan Kidul di dalam Komplek Keraton Yogyakarta.
 
Beberapa bangunan dari Taman Sari pada waktu itu adalah Pulo Kenanga, Pulo Panembung, Sumur Gumuling, Gedhong Gapura Hageng, Gedhong Lopak-Lopak, Pasiraman Umbul Binangun, Gedhong Sekawan/Gedhong Sedah Mirah, Gedhong Gapura Panggung, Gedhong Pangunjukan/Gedong Patehan, Gedhong Temanten, Gedhong Gandek, Gerbang Seketeng, Gumuk Pemandengan, Gedhong Carik, Gedhong Madaran, Pasareyan Ledhoksari, Gedhong Blawong, Gedhong Garjitawati, Gapura Umbulsari, Pasiraman Umbul Sari, Pongagan Peksi Beri/Pongangan Barat, Pongangan Timur, Gapura Kenari, Pulo Gedhong.
 
Selain difungsikan sebagai tempat rekreasi, Taman Sari juga difungsikan sebagai sarana pertahanan dan religi, dengan adanya tembok sekeliling yang tebal dan tinggi dengan gerbang dan bastion serta lorong bawah tanah untuk menghadapi musuh kerajaan, namun disamping itu terdapat Sumur Gumuling yang difungsikan sebagai masjid dan Pulo Panembung yang digunakan oleh Sultan untuk bermeditasi.
 
Pada tahun 1867 dan tahun 2006 di Yogyakarta terjadi gempa yang meruntuhkan bangunan di Taman Sari hingga mengalami kerusakan yang cukup parah, hingga saat ini Komplek Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah bagian Barat Daya Pelataran Kedhaton saja.
 
[BANGUNAN TAMAN SARI]